Tuesday, October 3, 2017

Resume
Artificial Intelligence”, Dibutuhkan dan Ditakuti

Pikiran Rakyat
Senin, 24 Juli 2017
Halaman 22

Di film yang berjudul “2001: A Space Odyssey” menghadirkan satu tokoh bernama HAL 2000. HAL 2000 dideskripsikan sebagai supercomputer. Namun, HAL 2000 juga kemudian mampu berontak, mengakibatkan salah satu astronot mati karena ulahnya di film tersebut.

HAL 2000 merupakan contoh yang sekarang dinamakan dengan artificial intelligence (AI). Sudah sejak lama, AI atau kecerdasan yang timbul dari mesin atau computer menjadi obsesi umat manusia setidaknya 100 hingga 200 tahun ke belakang.

Dewasa ini, AI bukan lagi sesuatu yang hanya di angan-angan. HAL 2000 juga bukan hal yang tidak mungkin ada di antara kita sekarang ini dalam bentuk yang lain. Reformasi digital telah membuat AI menjadi mungkin dan terwujud sesuai cita-cita umat manusia yang luhur, membantu kerja umat manusia. Namun, lebih dari itu, seiring dengan semakin cerdasnya AI, mungkin saja mereka kelak juga menggantikan umat manusia dalam banyak hal.

Dalam konteks manajemen, artikel di Harvard Business Review memuat tulisan dari Vegard Kolbjornsrud, Richard Amico, dan Robert J Thomas berjudul “How Artificial Intelligence Will Redefine Management”. Di artikel tersebut, disebutkan bahwa AI akan sangat membantu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan administratif.

Sebanyak 54% yang habis untuk hal-hal administratif sudah semestinya digantikan kerjanya oleh AI dan seorang manajer baiknya memfokuskan diri pada pengambilan keputusan, berpikir kreatif, serta pengembangan kemampuan social dan jaringan.

Namun persoalan berikutnya muncul jika kerja administratif dialihkan pada AI, lalu bagaimana peran staf yang biasa menjadi tenaga administrasi? Tentu saja ada alternatif lain agar AI tidak berdampak pada pengangguran. Para pekerja tersebut harus dibekali kemampuan tambahan agar bisa bersinergi dengan AI.

Pertanyaan berikutnya, kemampuan apa yang harus dioptimalisasi dalam konteks manajemen terkait kehadiran AI? Survei terhadap 1.770 manajer dari 14 negara banyak menjawab (42%) tentang pentingnya kemampuan menguasai teknologi digital.

Namun, ditengarai, kemampuan bersosialisasi, kemampuan manusia dan kepelatihan, serta kolaborasi yang jumlahnya sekitar 21% dan 20%, justru akan menjadi penting di 5 tahun ke depan. Artinya, tiga kemampuan itu bisa menjadi celah di tengah kepungan AI yang semakin menihilkan peran manusia. Para pimpinan perusahaan harus peduli terhadap penigkatan kemampuan tersebut agar AI tidak menjadi alasan untuk pelan-pelan menyingkirkan tenaga kerja manusia.

Di ujung cerita, manusia tepatnya generasi milenial tetap menjadi pemenang dan harus menjadi pemenang. Begitu pun halnya dalam konteks manajemen. Di sisi lain, kelangsungan perusahaan bukan tentang seberapa canggih perangkat AI yang bisa diadopsi ke dalam manajemen, melainkan seberapa canggih perusahaan dapat mengembangkan sumber daya manusia yang ada sehingga dapat bermitra dengan AI.

No comments:

Post a Comment